Tradisi Sungkeman
Sungkeman ialah acara meminta maaf atau minta doa restu terhadap orang
tua ataupun keluarga yang lebih tua dari kita. Adalah tradisi yang
memang lekat di masyarakat Indonesia, khususnya Jawa. Acara sungkeman
bukan hanya ada saat hari Lebaran saja tapi pada saat calon pengantin
akan minta doa restu maka diadakan pula sungkeman. Sewaktu masih duduk
di bangku SD, oleh nenekku aku di wajibkan sungkeman ke kakek dan nenek
jika di sekolah akan diadakan ujian sekolah, gunanya untuk minta doa
restu dan minta doa agar dalam mengerjakan ulangan itu di beri kemudahan
oleh Tuhan. Karena menurut nenekku doa orang tua itu selalu di
dengarkan Tuhan. Iya juga ya…. Tapi setelah lepas SD aku tak pernah
melakukan “ritual” sungkem pada nenek dan kakekku, bukan karena malas,
tapi karena kakek dan nenekku sudah di panggil oleh Tuhan…..
Dan dulu sewaktu jaman presidan Soeharto berkuasa, aku selalu menantikan acara berita dari istana negara saat keluarga besar itu melakukan acara sungkeman di hari Raya Idul Fitri. Entah mengapa aku ikut terlarut jika melihat tayangan keluarga Cendana ber “sungkem” ria itu.
Dimulai dari pak Harto yang sungkem ke ibundanya ( kalau nggak salah ibu mertua ya ? ), lalu Ibu Tien Soeharto yang sungkem pula ke ibunda dan ke pak Harto. Anak dan cucu pak Harto pun bergiliran dimulai dari anak pertama dan di lanjutkan adik adiknya. Wah berita acara sungkeman ini tak pernah terlewatkan olehku.
Sampai sekarangpun acara sungkeman hari raya ini menjadi acara rutin di keluarga besarku walau sudah mulai berkurang nilainya karena tak semua keluarga bisa berkumpul semua di hari raya dengan berbagai alasan. Sungkeman juga meningkatkan hubungan persaudaran dan rasa saling menghormati di antara keluarga. Tradisi ini patut kita lestarikan untuk mempererat hubungan persaudaraan di antara kita.
Hanya sayang untuk generasi yang sekarang ini sungkeman seperti tak dikenal oleh mereka…
Dan dulu sewaktu jaman presidan Soeharto berkuasa, aku selalu menantikan acara berita dari istana negara saat keluarga besar itu melakukan acara sungkeman di hari Raya Idul Fitri. Entah mengapa aku ikut terlarut jika melihat tayangan keluarga Cendana ber “sungkem” ria itu.
Dimulai dari pak Harto yang sungkem ke ibundanya ( kalau nggak salah ibu mertua ya ? ), lalu Ibu Tien Soeharto yang sungkem pula ke ibunda dan ke pak Harto. Anak dan cucu pak Harto pun bergiliran dimulai dari anak pertama dan di lanjutkan adik adiknya. Wah berita acara sungkeman ini tak pernah terlewatkan olehku.
Sampai sekarangpun acara sungkeman hari raya ini menjadi acara rutin di keluarga besarku walau sudah mulai berkurang nilainya karena tak semua keluarga bisa berkumpul semua di hari raya dengan berbagai alasan. Sungkeman juga meningkatkan hubungan persaudaran dan rasa saling menghormati di antara keluarga. Tradisi ini patut kita lestarikan untuk mempererat hubungan persaudaraan di antara kita.
Hanya sayang untuk generasi yang sekarang ini sungkeman seperti tak dikenal oleh mereka…
******00000******
<sungkeman> <selsa> <tradisisungkeman>
Komentar
Posting Komentar